DigiTVNews.com - Menjelang puncak pemilihan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU, bursa kandidat kian menghangat. Dari sekitar 15 nama yang sempat beredar liar di media sosial, mengerucut jadi tujuh tokoh resmi berdasarkan pemetaan Majalah Risalah NU edisi khusus Muktamar. Dari ketujuh nama tersebut, empat di antaranya sudah menyatakan kesiapan secara terbuka untuk maju. Berikut profil singkatnya.
KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) — Sang Petahana
Lahir 16 Februari 1966, Gus Yahya adalah Ketua Umum PBNU periode berjalan yang telah menyatakan niatnya kembali maju sejak 22 Juli 2026. Sebagai petahana, ia menawarkan gagasan keberlanjutan kepemimpinan dengan fokus penguatan kemandirian organisasi, mengusung visi "Merawat Jagat, Membangun Peradaban". Selain penguatan internal, arah kepemimpinannya juga dikaitkan dengan penguatan posisi NU dalam diplomasi global. "Saya memang hendak mencalonkan lagi karena, pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun," ujarnya.
KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) — Suara Perubahan
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah ini masuk dalam kelompok tokoh yang mengusung narasi evaluasi dan perubahan dari dalam organisasi. Gus Rozin telah menyatakan kesiapannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU untuk periode mendatang.
KH Zulfa Mustofa (Gus Zulfa) — Kader Internal dengan Pengalaman Menjabat
Gus Zulfa lahir di Jakarta, 7 Agustus 1977, dan merupakan keponakan mantan Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin. Sebelumnya menjabat Wakil Ketua Umum PBNU, ia ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU lewat rapat pleno pada 9 Desember 2025, menyusul pergantian posisi Ketum PBNU kala itu. Gus Zulfa dikenal aktif mengajar di berbagai majelis sejak muda dan telah menghasilkan sejumlah karya keilmuan, di antaranya Tuhfatul Qashi wa Dani dan Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi'i.
KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) — Mandat dari Jawa Timur
Gus Kikin membawa dukungan kuat dari basis Jawa Timur dan dikenal sebagai figur dengan modal representasi kewilayahan yang signifikan dalam bursa kandidat kali ini.
KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) — Pengasuh API Tegalrejo
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, ini juga masuk dalam daftar kandidat yang mengemuka, membawa basis dukungan dari kalangan pesantren di Jawa Tengah.
KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) — Suara Kehati-hatian soal Mekanisme
Pengasuh Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar ini turut masuk bursa kandidat. Menariknya, Gus Salam juga jadi salah satu suara yang cukup vokal soal polemik mekanisme AHWA, menekankan bahwa keputusan soal mekanisme pemilihan harus dikembalikan sepenuhnya kepada muktamirin. "Saya kira potensi itu ada, tentu semua harus dikembalikan kepada peserta muktamar. Kalau kami, semua sama baiknya, asalkan tidak ada intervensi dan kedaulatan NU terjaga," ujarnya.
Nama-nama Lain yang Turut Disebut
Di luar keenam nama di atas, sejumlah tokoh lain juga sempat mengemuka dalam bursa, di antaranya Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, KH Imam Jazuli, dan mantan Ketua Umum PB PMII Hery Haryanto Azumi. Namun, sejauh ini belum semua nama tersebut menyatakan kesiapan secara terbuka untuk maju.
Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU, Prof Moh Mukri, menilai munculnya banyak nama dalam bursa calon ketua umum sebagai hal yang wajar dan justru mencerminkan proses demokrasi yang sehat di lingkungan NU. "Kalau kemudian agak-agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah. Itu justru sekaligus penampakan adanya demokrasi, ada penyampaian aspirasi," ujarnya.
Penting dicatat, daftar nama ini masih dapat berubah mengingat mekanisme pencalonan resmi baru berlangsung dalam forum Muktamar itu sendiri. Siapa pun yang akhirnya terpilih, tetap harus melalui proses AHWA dan mendapat restu dari Rais Aam terpilih sebelum resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.
Belum ada komentar yang ditayangkan.