Senin, 14 September 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
80 Perusahaan Berebut Penghargaan di Malam Puncak InTechSEA Awards 2026 Jakarta ◆ BMKG Tuan Rumah, Delegasi ASEAN Bahas Masa Depan Teknologi Modifikasi Cuaca di Jakarta ◆ ZTE Gelar Forum Ekosistem Layanan Digital 2026 di Jakarta, Rayakan Sukses Proyek Integrasi Jaringan XLSMART ◆ Menteri PKP dan Dubes China Bentuk Tim Gabungan demi Genjot Rumah Susun Terjangkau ◆ Bukan Cuma Mobil Listrik, Chery Kini Jual Robot Humanoid Lewat AiMOGA di Jakarta
TEKNOLOGI

BMKG Tuan Rumah, Delegasi ASEAN Bahas Masa Depan Teknologi Modifikasi Cuaca di Jakarta

BMKG menggelar ASEAN Workshop on Weather Modification Science and Emerging Technologies 2026 secara hybrid pada 10–12 September 2026 di Jakarta. Forum ini mempertemukan pakar, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari negara-negara ASEAN untuk membahas perkembangan teknologi modifikasi cuaca berbasis AI, cloud chamber, pemodelan numerik, hingga UAV, sebagai upaya kolektif kawasan menghadapi cuaca ekstrem dan mendukung ketahanan pangan serta pengelolaan sumber daya air.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 14 September 2026, 04:04 WIB · Diperbarui 14 September 2026, 18:16 WIB · 6 dibaca
ASEAN Workshop on Weather Modification Science and Emerging Technologies 2026
— Foto: BMKG

JAKARTA, DigiTVNews.com -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kerja sama regional dalam pengembangan teknologi modifikasi cuaca melalui penyelenggaraan "ASEAN Workshop on Weather Modification Science and Emerging Technologies 2026". Kegiatan yang digelar secara hybrid selama tiga hari, 10–12 September 2026, ini dibuka oleh Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Auditorium BMKG, Jakarta, pada Kamis (10/9/2026).

Workshop tersebut mempertemukan para ahli, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari negara-negara anggota ASEAN, dengan melibatkan sejumlah lembaga seperti Kementerian Luar Negeri RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sekretariat ASEAN, ASEAN Weather Modification Centre (AWMC), serta World Meteorological Organization (WMO).

Menjawab Tantangan Cuaca Ekstrem

Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa perubahan kondisi cuaca dan iklim secara global mendorong setiap negara mencari pendekatan baru guna meningkatkan kesiapsiagaan. Menurutnya, penguatan ketahanan terhadap cuaca ekstrem, pengelolaan air, mitigasi bencana, hingga perlindungan lingkungan membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.

Ia menilai kemajuan riset dan inovasi membuka peluang bagi pelaksanaan modifikasi cuaca yang semakin terukur dan berbasis data ilmiah, sehingga kerja sama antarnegara menjadi kunci untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus pemahaman atas teknologi tersebut.

Tema workshop tahun ini juga mencerminkan pergeseran modifikasi cuaca dari praktik konvensional menjadi ilmu berbasis teknologi tinggi. Sejumlah topik strategis yang dibahas meliputi observasi atmosfer, fisika awan, riset cloud chamber, pemodelan numerik, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk mendukung kegiatan penelitian dan operasional.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG yang juga menjabat Chairman AWMC, Tri Handoko Seto, menyampaikan bahwa workshop ini menjadi bentuk nyata upaya Indonesia mempererat kerja sama regional di bidang sains dan teknologi modifikasi cuaca. Indonesia saat ini mengemban mandat sebagai Ketua AWMC untuk periode 2026–2027, dengan fokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kerja sama penelitian, serta pertukaran pengetahuan antarnegara ASEAN.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, Yuliana Bahar, menegaskan bahwa kemampuan negara-negara ASEAN dalam menghasilkan data dan prakiraan cuaca akurat berperan penting dalam mengantisipasi ancaman bencana. Ia menilai informasi meteorologi yang mumpuni membantu kawasan bertransformasi dari pendekatan penanggulangan bencana yang reaktif menuju upaya pencegahan yang lebih proaktif, termasuk dalam mengatasi persoalan kabut asap lintas negara.

Melalui forum ini, BMKG mendorong agar kerja sama ASEAN di bidang modifikasi cuaca tidak berhenti pada pertukaran informasi semata, melainkan berkembang ke arah penelitian bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengembangan teknologi yang lebih adaptif serta berlandaskan kajian ilmiah.

ASEAN Weather Modification Centre (AWMC) diproyeksikan menjadi wadah utama untuk berbagi pengetahuan, meningkatkan kapasitas tenaga ahli, dan mendorong penelitian bersama di antara negara-negara anggota, mengingat fenomena cuaca dan iklim kerap berdampak lintas batas wilayah.

Workshop ini diharapkan menghasilkan landasan yang lebih kuat bagi kerja sama kawasan dalam bidang modifikasi cuaca, sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya air, mitigasi bencana, ketahanan pangan, dan pelestarian lingkungan di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di Asia Tenggara.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT

NEWSLETTER DIGITV NEWS

Jangan lewatkan berita penting hari ini

Dapatkan berita pilihan, analisis, dan video terbaru DigiTV News langsung melalui email Anda.

Gratis dan dapat dihentikan kapan saja. Lihat detail newsletter