JAKARTA, DigiTVNews.com -- Indonesia dan Rusia mulai menjajaki kerja sama di bidang teknologi satelit dan kecerdasan artifisial (AI). Penjajakan ini muncul dalam pertemuan antara Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dengan delegasi Administrasi Presiden Rusia di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Delegasi Rusia dipimpin Inal Ardzinba, Head of the Department for Coordination of Strategic Initiatives di Directorate for Strategic Partnership and Cooperation. Mereka diterima Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo.
Rusia Paparkan Jaringan Satelit
Dalam pertemuan itu, pihak Rusia menjelaskan peluang pemanfaatan teknologi satelit. Cakupannya meliputi sistem administrasi, perangkat penerima di Indonesia, dan akses ke data satelit. Delegasi menyebut jaringan yang dipaparkan terdiri dari 98 satelit, dengan perusahaan terkait meluncurkan sekitar 16 satelit setiap tahun.
Angga menyambut baik tawaran tersebut dan mengarahkannya ke industri dalam negeri. Ia menyebut perusahaan satelit Indonesia, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), bisa menjadi mitra. Menurutnya, pemerataan infrastruktur digital penting bagi Indonesia yang wilayahnya sangat luas. Komdigi ingin membangun infrastruktur digital yang adil bagi semua orang.
Kerja sama satelit yang dibahas tidak hanya soal perangkat dan data. Rusia juga menawarkan program pendidikan serta pembangunan laboratorium di Indonesia, sehingga mahasiswa bisa mempelajari dan mengoperasikan satelit secara langsung. Angga menambahkan bahwa Indonesia sudah memiliki sejumlah lembaga riset dan inovasi untuk satelit dan komunikasi.
AI untuk Literasi Digital
Di luar satelit, AI menjadi agenda kedua. Angga menyatakan ketertarikan pada pemanfaatan AI di bidang pendidikan. Ia menekankan literasi digital perlu menjangkau masyarakat luas, bukan hanya siswa, dan tidak berhenti pada kemampuan memakai teknologi.
Komdigi menyebut pembahasan ini sebagai pijakan awal. Bidang yang akan digarap, mulai dari satelit, AI, riset dan inovasi, hingga pengembangan talenta digital, akan diidentifikasi lebih lanjut sesuai kebutuhan kedua negara. Sejauh ini belum ada nilai kerja sama, jadwal, atau mitra spesifik yang diumumkan.
Pertemuan ini berlangsung tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Vladimir Putin di Vladivostok pada 3 September 2026, di sela Eastern Economic Forum ke-11. Hubungan diplomatik kedua negara sudah berjalan lebih dari lima dekade, dan statusnya naik menjadi kemitraan strategis tahun lalu.
Belum ada komentar yang ditayangkan.