JAKARTA, DigiTVNews.com -- Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong percepatan hilirisasi riset konversi secara menyeluruh pada kendaraan berbahan bakar bensin menuju kendaraan bertenaga listrik guna menekan impor energi. Dorongan ini disampaikan dalam kegiatan Energy Week 2026 di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Brian menilai impor energi menjadi beban tersendiri bagi negara, terlebih di tengah dinamika eskalasi konflik geopolitik global yang terus mendongkrak harga minyak dunia. Menurutnya, konversi motor berbahan bakar bensin ke listrik menjadi salah satu pendekatan paling signifikan untuk menekan ketergantungan pada energi impor.
"Salah satu yang signifikan untuk menghilangkan impor itu adalah tentu dengan berbagai pendekatan. Motor gasolin, motor bensin kita itu mengonsumsi hampir 100 persen dan kalau dikonversi impor kita itu lari ke gasolin motor. Jadi kalau motor ini bisa dikonversi kepada listrik 100 persen kita akan sangat signifikan mengurangi impor," kata Brian.
Ia menyebut Presiden RI Prabowo Subianto telah memberikan arahan khusus agar ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) dan gas dapat segera ditekan. Sinergi antara laboratorium perguruan tinggi, industri, dan pemerintah diharapkan mampu memancing pihak industri untuk segera menangkap peluang komersialisasi dari hasil-hasil riset inovatif karya anak bangsa.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan komitmen lembaganya untuk terus berdampingan dengan Kemdiktisaintek dalam mencetak talenta unggul dan kreatif di bidang inovasi. Arif meyakini kolaborasi antara laboratorium perguruan tinggi, industri, dan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan untuk merespons tantangan transisi energi demi membawa Indonesia melompat menjadi negara maju.
Dorongan riset konversi motor listrik ini merupakan bagian dari agenda besar transisi energi yang telah digulirkan pemerintah sejak awal 2026. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan program elektrifikasi kendaraan akan ditopang oleh percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan, khususnya tenaga surya, dengan target pembangunan 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya dalam tiga tahun ke depan.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), program konversi motor listrik diproyeksikan memberikan dampak positif berupa peningkatan konsumsi listrik, penurunan emisi karbon, hingga pengurangan impor BBM yang secara langsung menghemat devisa negara. Selain itu, program ini juga diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru dari bengkel-bengkel konversi serta menumbuhkan industri komponen pendukung kegiatan konversi.
Sejumlah lembaga penelitian ekonomi juga mendorong pemerintah untuk kembali mengaktifkan insentif kendaraan listrik, termasuk motor listrik, guna meredam tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia. Simulasi transisi energi menunjukkan bahwa penggantian 1 juta kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik berpotensi menghemat belasan juta barel minyak per tahun, sebuah penghematan signifikan yang berdampak langsung terhadap keseimbangan energi nasional dan stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global.
Belum ada komentar yang ditayangkan.