JOMBANG, DigiTVNews.com — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang menggelar seminar bertajuk “Digitalk” dengan tema “Literasi Digital dan Tantangan Dakwah Masa Kini” di Aula Universitas Darul Ulum Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 150 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen. Seminar menjadi ruang diskusi mengenai perkembangan teknologi digital sekaligus tantangan yang dihadapi masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku dakwah, di tengah masifnya penggunaan media sosial.
Hadir memberikan sambutan sekaligus menjadi keynote speaker, Rektor Universitas Darul Ulum Jombang, Prof. Dr. H. Amir Maliki Abilfolkha, M.Ag. Turut hadir Muhammad Jamilun, M.S.M., Ketua IKA PMII Cabang Ciputat, serta Marroli Jeni Indarto, S.Sos., M.Si., Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi RI.
Dalam sambutannya, Prof. Amir Maliki menekankan pentingnya membangun mental dan karakter generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, kemajuan administrasi dan teknologi digital harus diarahkan untuk mendukung proses dakwah yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Penyakit utama dari bangsa ini adalah mentalnya. Maka administrasi digital tentu harus ditujukan untuk bersama-sama ke depan membangun proses dakwah yang berpotensi membuat kita menjadi lebih baik lagi,” ujar Prof. Amir.
Ia menilai, generasi muda perlu mendapatkan pemahaman yang tepat dalam menggunakan media sosial maupun berbagai produk teknologi. Teknologi, kata dia, seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pesan yang paling penting dari kegiatan ini adalah bagaimana kita bermedia sosial, bagaimana kita merujuk produk-produk teknologi yang kemudian harus memiliki potensi untuk membuat kita lebih baik. Itu yang utama,” katanya.
Sementara itu, Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Komdigi RI, Marroli Jeni Indarto, mengatakan tingginya penetrasi internet di Indonesia membawa peluang sekaligus tantangan.
Menurutnya, pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi milenial dan Generasi Z. Berdasarkan data yang disampaikannya dalam seminar, penetrasi tersebut mencapai sekitar 90,3 persen.
Marroli menjelaskan, perkembangan teknologi digital telah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Namun, di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan berbagai persoalan, mulai dari kejahatan siber hingga persoalan etika dalam bermedia sosial.
“Teknologi itu selalu mempunyai pisau bermata dua. Satu sisi banyak me-leverage ekonomi, tentunya ekonomi digital, karena ekosistem digital di Indonesia itu terus tumbuh. Namun pada sisi lain, kita juga menyadari banyak kejahatan siber,” jelasnya.
Ia menyebut sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan di ruang digital, seperti judi online, phishing, penyebaran kebencian, berita bohong, hingga fitnah.
Kondisi tersebut, menurut Marroli, berpotensi memengaruhi nilai-nilai etika dan akhlak pengguna internet apabila tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.
Marroli juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menganggap apa yang muncul di media sosial sebagai gambaran utuh mengenai kondisi nyata.
Menurutnya, konten yang masuk ke halaman For You Page (FYP) tidak selalu mencerminkan realitas yang terjadi di masyarakat. Fenomena penyebaran konten secara masif, termasuk konten lama yang kembali diangkat dan didorong melalui jaringan tertentu, menjadi salah satu tantangan dalam memahami informasi di ruang digital.
“Yang FYP di media sosial itu belum tentu kemudian menjadi cerminan realitas di dunia nyata,” tegasnya.
Dalam konteks dakwah, Marroli mengatakan perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Jika sebelumnya dakwah lebih banyak berlangsung melalui ruang-ruang fisik, kini panggung dakwah juga telah bergeser ke ruang digital.
Ia menyebut masyarakat saat ini menghabiskan rata-rata sekitar 6–7 jam per hari untuk mengonsumsi media sosial. Kondisi tersebut membuat media sosial menjadi salah satu ruang penting dalam penyebaran informasi, termasuk pesan-pesan keagamaan.
“Panggung dakwah bergeser ya ke layar,” ujarnya.
Karena itu, tantangan dakwah digital bukan sekadar bagaimana membuat konten yang menarik, tetapi juga bagaimana menyampaikan pesan Islam yang moderat, damai, dan relevan di tengah karakter algoritma media sosial.
Menurut Marroli, algoritma platform digital cenderung mendorong konten yang mampu menarik perhatian pengguna. Dalam situasi tersebut, konten kontroversial berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan konten yang informatif dan edukatif. Sementara, tantangan utama dakwah digital adalah bagaimana menyajikan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah ruang digital yang ekosistem algoritmanya sengaja mendorong konten kontroversial demi menarik perhatian pengguna.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam logika algoritma media sosial. Pesan tersebut sejalan dengan imbauan Menteri Komunikasi dan Digital Muthia Hafidz agar masyarakat tidak menjadikan algoritma sebagai satu-satunya acuan dalam melihat realitas.
“Jangan terjebak dalam masalah algoritma. Karena kadang algoritma itu tidak selalu mencerminkan kondisi nyata,” kata Marroli.
Selain media sosial dan algoritma, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi tantangan baru dalam ruang digital.
Marroli menyoroti kemampuan teknologi AI yang semakin canggih dalam memanipulasi gambar maupun wajah seseorang. Teknologi tersebut dapat disalahgunakan untuk membuat konten palsu yang kemudian digunakan untuk menyebarkan informasi menyesatkan atau bahkan fitnah.
Karena itu, literasi digital dinilai semakin penting agar masyarakat memiliki kemampuan untuk memeriksa, memahami, dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Seminar “Digitalk” juga menghadirkan sejumlah narasumber dalam sesi talkshow. Mereka antara lain Mukari, S.S., M.Si., Akademisi FISIPOL Universitas Darul Ulum Jombang; Ulinnuhaa Lazulfaa Wakhusna Ma'aab, praktisi social media management; serta Aulia Alvi Laila Camali Camalica, S.S., LL.M., pegiat literasi dan penulis sekaligus Pengasuh Pondok Al Usmani.
Melalui kegiatan ini, Komdigi dan Universitas Darul Ulum Jombang mendorong mahasiswa dan sivitas akademika untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang kritis, bertanggung jawab, dan produktif.
Literasi digital diharapkan dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendidikan, komunikasi, ekonomi, maupun dakwah, tanpa kehilangan nilai etika dan akhlak.
Di tengah semakin kuatnya peran media sosial dan perkembangan AI, kemampuan untuk memilah informasi, memahami cara kerja ekosistem digital, serta menghadirkan konten yang positif menjadi bagian penting dari tantangan dakwah masa kini.
Belum ada komentar yang ditayangkan.