JOMBANG, DigiTVNews.com - Malam usai terpilihnya sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 NU, suasana Tambakberas belum juga sepi. Momen ini justru jadi bahan obrolan menarik dalam sesi spesial Digi TV, yang malam itu menghadirkan dua sudut pandang berbeda, yaitu dari kalangan internal NU lewat Gus Romzi, dan dari kacamata pengamat lewat Puthut EA, sosok yang akrab disapa "Kepala Suku" Mojok.co.
Dari Perspektif Spiritual sampai Manuver Politik
Bagi Gus Romzi, yang mengaku memandang dari sisi spiritualitas sebagai anak muda NU, sembilan nama yang terpilih adalah representasi orang-orang pilihan yang dipercaya membawa amanah besar. "Sembilan nama ini adalah orang-orang yang terpilih, yang dipilihkan oleh Allah untuk kemudian memimpin NU," ujarnya.
Namun dari sisi jurnalistik, Puthut EA punya catatan berbeda. Ia mengaku selama berhari-hari mengamati langsung jalannya Muktamar, ada banyak manuver politik yang terjadi sebelum sembilan nama itu akhirnya disepakati. "Ternyata manuver politik nggak terlalu berjalan mulus dengan hasil ini," katanya sambil berseloroh menjadikan Gus Romzi sebagai salah satu rujukan pengamatannya.
Gus Romzi pun tak menampik ada unsur politik dalam prosesnya. Menurutnya, meski hasil akhir diyakini sebagai manifestasi doa seluruh warga Nahdliyin, jalan yang ditempuh untuk sampai ke sana tetap lewat sarana politik. "Sembilan nama ini nggak perlu memuaskan semua pihak, tapi harus membuat semua pihak percaya bahwa NU is on the good hands," ujarnya.
Empat Hari Menginap, Sekelas Musdalifah?
Obrolan sempat berlanjut ke pengalaman personal Puthut EA yang sudah empat hari berada di lokasi Muktamar. Ditanya soal suasana yang mirip suasana padat saat ibadah haji, ia menjawab santai bahwa secara sosial mungkin mirip karena sama-sama berdesak-desakan, tapi secara kultur jelas berbeda. Ia bahkan sempat bercerita, hingga menjelang subuh masih terlihat manuver politik berlangsung, bahkan sempat muncul sejumlah "letupan kecil" di tengah proses, meski akhirnya bisa teratasi.
Menariknya, ini bukan kali pertama Puthut EA turun langsung meliput muktamar organisasi besar. Ia mengaku juga pernah melakukan hal serupa saat Muktamar Muhammadiyah. Menurutnya, ada perbedaan mencolok dari sisi dinamika. Kalau di Muhammadiyah, persaingan lebih terasa di level "war bus antarwilayah" yang bikin kemacetan luar biasa, tapi dinamika internal forumnya sulit diikuti wartawan karena sistemnya tertutup. Sementara di NU, dinamika antar-kubu bisa lebih terlihat dan menurutnya jauh lebih menegangkan bagi seorang jurnalis.
AHWA dengan Kewenangan Lebih Besar, Kemunduran atau Kemajuan?
Bagian paling menarik dari obrolan ini adalah soal perubahan besar tahun ini, yaitu AHWA kini punya kewenangan lebih luas, bukan cuma menentukan Rais Aam, tapi juga akhirnya menentukan siapa yang akan diberi mandat sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. Gus Romzi menyebut ini bukan kemunduran, melainkan justru langkah maju. Menurutnya, dengan otoritas kepemimpinan dikembalikan sepenuhnya kepada Rais Aam, hubungan batin antara Rais Aam dan Ketua Umum terpilih nantinya akan jauh lebih kuat karena sang Ketum akan merasa benar-benar mendapat mandat langsung dari pemimpin spiritual tertinggi NU.
Puthut EA menambahkan catatan menarik dari sisi demokrasi. Menurutnya, meski sekilas tampak seperti cabang dan wilayah kehilangan suara, sebenarnya suara mereka tetap terwakili, sebab sembilan anggota AHWA sendiri dipilih dari usulan PWNU dan PCNU se-Indonesia. "Ini satu model demokrasi yang mungkin Indonesia perlu melihatnya sebagai sesuatu yang menarik ke depan," ujarnya.
Prediksi Proses yang Tak Akan Berlarut-larut
Ditanya soal berapa lama proses musyawarah sembilan kiai ini akan berlangsung, Gus Romzi optimistis prosesnya tak akan panjang, mengingat rekam jejak ketawaduan para anggota AHWA dari Muktamar-Muktamar sebelumnya. Ia bahkan mengingatkan, bukan tidak mungkin dinamika serupa Muktamar Jombang terdahulu terulang, saat KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sempat terpilih sebagai Rais Aam namun akhirnya memilih mundur dan menyerahkan posisi itu kepada anggota AHWA lain, sebagai cerminan budaya tawadu yang mengakar di kalangan ulama NU.
Ia juga mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk menahan diri dari saling menjatuhkan opini selama proses musyawarah berlangsung, mengutip prinsip menjaga adab sesama sahabat sebagaimana diajarkan dalam tradisi keilmuan Islam. "Apa pun keputusan yang diambil AHWA, kita terima secara utuh," tegasnya.
Harapan untuk NU ke Depan
Di penghujung obrolan, Gus Romzi menyampaikan dua harapan besar untuk kepemimpinan NU mendatang. Pertama, tata kelola organisasi yang lebih profesional namun tetap luwes, tidak terburu-buru dalam proses konsolidasi. Kedua, keterlibatan lebih banyak anak muda dalam struktur organisasi, mengingat sosok-sosok pendiri NU seperti KH Wahab Chasbullah dan KH Wahid Hasyim dulu juga bergabung di usia yang sangat muda. "Anak muda itu pemilik hari ini dan hari esok, bukan pewaris masa depan," ujarnya.
Sementara itu, Puthut EA menutup obrolan dengan kesan mendalam soal ketawaduan para santri muda yang ia saksikan langsung selama meliput, termasuk keberanian mereka menegakkan aturan bahkan di hadapan para kiai sekalipun. Namun ia juga jujur mengaku kaget menyaksikan betapa kerasnya manuver kepentingan politik yang terjadi dari jarak dekat, jauh berbeda dari bayangannya selama ini yang hanya mengikuti liputan media. Meski begitu, ia bersyukur proses pemilihan sembilan anggota AHWA berjalan jauh lebih cepat dari perkiraannya. "Saya membayangkan baru selesai subuh, ternyata ba'da maghrib sudah selesai," pungkasnya.
Belum ada komentar yang ditayangkan.