JOMBANG, DigiTVNews.com – Suasana khidmat menyelimuti area Makam K.H. Abdul Wahab Chasbullah atau yang akrab disapa Mbah Wahab di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Di tengah perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026, kawasan makam salah satu pendiri NU tersebut menjadi salah satu pusat kunjungan para muktamirin, warga Nahdliyin, santri, hingga sejumlah tokoh dari berbagai daerah. Ribuan pengunjung menyempatkan diri datang untuk berziarah dan mengenang jejak perjuangan Mbah Wahab sebagai salah satu muassis atau pendiri Nahdlatul Ulama. Ziarah menjadi bagian dari ikhtiar spiritual sekaligus momentum untuk meneladani perjuangan para ulama dalam membangun dan menjaga perjalanan organisasi NU.
Pada Jumat (28/8/2026), suasana di kawasan makam Mbah Wahab semakin ramai. Memasuki sore hari, para peziarah terus berdatangan secara bergantian. Sebagian terlihat berdoa dengan khusyuk, sementara rombongan dari berbagai daerah memasuki area makam untuk memanjatkan doa.
Tidak hanya menjadi tempat ziarah, kawasan tersebut juga menghadirkan sarana literasi sejarah. Di area masuk kompleks Makam Tambakberas, panitia memamerkan sejumlah foto bersejarah K.H. Abdul Wahab Chasbullah.
Foto-foto tersebut menarik perhatian para pengunjung dan muktamirin yang melintas. Pameran ini menjadi ruang untuk mengenalkan kembali perjalanan dan jejak perjuangan Mbah Wahab kepada generasi warga Nahdliyin yang hadir dalam Muktamar ke-35 NU.
Salah seorang peziarah, Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tangerang, Dr. H. Muhammad Qustulani, mengaku hadir sebagai utusan PCNU Kabupaten Tangerang untuk mengikuti rangkaian Muktamar ke-35 NU. Di sela kegiatannya, ia bersama rombongan menyempatkan diri berziarah ke makam Mbah Wahab.
“Pada sore hari ini kami sebagai utusan dari PCNU Kabupaten Tangerang hadir untuk mengikuti Muktamar. Semoga kehadiran kami di Pondok Pesantren Bahrul Ulum mendapatkan barokah dari para masyayikh, khususnya pesantren ini,” ujarnya.
Menurut Qustulani, ziarah ke makam Mbah Wahab menjadi kesempatan untuk merenungkan perjuangan salah satu tokoh dan pendiri Nahdlatul Ulama.
“Sore ini kami berada di makam salah satu masyayikh pendiri Nahdlatul Ulama, Mbah Kiai Haji Wahab Chasbullah. Kami berziarah untuk merenungkan perjuangannya. Semoga ini membawa keberkahan untuk kami semua, tentunya untuk warga Nahdliyin dan bangsa Indonesia,” katanya.
Antusiasme serupa juga disampaikan oleh Yayu, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat dari Mojoagung, yang datang bersama rombongannya. Bersama warga Nahdliyin dari berbagai penjuru, ia mengaku dapat merasakan suasana khidmat saat berziarah di makam salah satu pendiri NU tersebut.
Menurutnya, ziarah dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengharap rida Allah SWT sekaligus ngalap barokah dari para wali dan ulama.
“Kita mengharap rida dari waliullah dan juga ngalap barokah. Kita mengharap diakui menjadi santrinya Mbah Wahab,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan harapan agar Muktamar ke-35 NU dapat melahirkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa kemaslahatan.
“Harapannya terpilih pemimpin yang amanah untuk bangsa Indonesia, khususnya untuk NU, yang bisa membawa maslahat untuk umat Islam dan seluruh warga Indonesia,” ujarnya.
Bagi para muktamirin, ziarah ke makam Mbah Wahab bukan hanya sebagai agenda kunjungan di tengah padatnya rangkaian Muktamar. Lebih dari itu, kehadiran mereka menjadi cara untuk kembali mengenang akar sejarah perjuangan NU dan mengambil semangat para muassis yang telah meletakkan fondasi organisasi.
Belum ada komentar yang ditayangkan.