Rabu, 21 Oktober 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
Dari M-Paspor hingga Data Lapas, Kemenko Kumham Imipas Susun Lima Jurus Digitalisasi Layanan Hukum ◆ DFSK Membawa E5 Plus Susuri Jakarta-Surabaya-Bali untuk Membuktikan Kemampuan PHEV di Jalan Nyata ◆ Aksara Daerah Dibidik Jadi Aset Ekonomi Baru Lewat Kolaborasi Kemenekraf dan PANDI ◆ Dipimpin Norwegia dan Finlandia, Koalisi 20 Negara Desak PBB Bentuk Badan Pengawas AI ◆ Dorong Konversi Motor Bensin ke Listrik, Pemerintah Bidik Kemandirian Energi
FINANCE

Tiga Kali Beruntun, BI Kunci Suku Bunga di 5,75% Sambil Awasi Rupiah dan Harga Pangan

Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut, keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026. Langkah ini konsisten dengan sikap mayoritas ekonom, di tengah tekanan dari kenaikan suku bunga The Fed, pelemahan rupiah, dan inflasi pangan yang mulai naik.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 21 Oktober 2026, 14:34 WIB · Diperbarui 21 Oktober 2026, 22:24 WIB · 4 dibaca
Bank Sentral Pertahankan BI-Rate di 5,75%
— Foto: peluangnews.id

DigiTVNews.com -- Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuannya, BI Rate, di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung 22–23 September 2026. Ini menjadi keputusan mempertahankan suku bunga untuk yang ketiga kalinya berturut-turut, setelah BI juga menahan level yang sama pada RDG Agustus 2026.

Sejalan dengan BI Rate, bank sentral juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan keputusan itu dalam konferensi pers hasil RDG, Rabu (23/9/2026).

Keputusan menahan suku bunga ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, sementara inflasi domestik dinilai masih berada dalam rentang sasaran. Bank sentral menargetkan inflasi di kisaran 2,5% plus minus 1% untuk 2026 dan 2027, sekaligus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli 2026, namun masih dalam rentang sasaran bank sentral. Inflasi inti relatif terjaga di 2,92%, sementara inflasi volatile food justru melonjak ke 4,06%, terutama dipicu kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras, ini sinyal bahwa tekanan harga pangan mulai perlu diwaspadai menjelang akhir tahun.

Faktor eksternal turut membebani ruang gerak BI. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00% pada 16 September 2026, ini kenaikan pertama sejak Juli 2023. Kenaikan itu terjadi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah Brent menembus di atas US$100 per barel.

Kombinasi tekanan tersebut berdampak pada nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat melemah 6,8% secara year-to-date meski sempat menguat dalam beberapa pekan terakhir, dengan rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.500-Rp17.600 per dolar AS pada pekan kedua September 2026. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia justru naik menjadi US$146,5 miliar pada Agustus, dari US$145,3 miliar pada Juni, memberi sedikit ruang bernapas bagi bank sentral.

BI juga mencermati semakin ketatnya kebijakan moneter global, termasuk potensi kenaikan lanjutan Fed Fund Rate serta imbal hasil US Treasury yang naik seiring ekspektasi kebijakan AS dan defisit anggaran pemerintah AS yang besar. Kondisi ini menahan minat investor global untuk masuk ke portofolio negara berkembang, sehingga indeks dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara maju maupun berkembang.

Survei BIG Consensus Insights oleh DataIndonesia terhadap 14 ekonom dan analis menunjukkan 12 di antaranya (85,7%) memperkirakan BI Rate akan tetap di 5,75%, sementara dua ekonom (14,3%) memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6%. Kepala Ekonom BCA David Sumual termasuk yang memprediksi kenaikan, dengan alasan bank sentral global seperti The Fed dan Bank of Japan juga menaikkan suku bunga sehingga menekan kurs mata uang negara berkembang seperti Indonesia.

Sementara itu, ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai ruang BI untuk menurunkan suku bunga dalam jangka pendek semakin terbatas. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut BI memiliki ruang untuk menahan suku bunga karena sebelumnya sudah menaikkan suku bunga kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni sebagai langkah antisipatif, sehingga tak perlu bereaksi berlebihan hanya karena kenaikan Fed Rate 25 basis poin.

Dengan berbagai pertimbangan itu, publik kini menanti arah kebijakan BI selanjutnya, apakah bank sentral akan tetap menahan suku bunga hingga akhir tahun, atau justru terdorong menaikkannya jika tekanan eksternal dan harga minyak dunia terus meningkat.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT

NEWSLETTER DIGITV NEWS

Jangan lewatkan berita penting hari ini

Dapatkan berita pilihan, analisis, dan video terbaru DigiTV News langsung melalui email Anda.

Gratis dan dapat dihentikan kapan saja. Lihat detail newsletter