Rabu, 21 Oktober 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
Dari M-Paspor hingga Data Lapas, Kemenko Kumham Imipas Susun Lima Jurus Digitalisasi Layanan Hukum ◆ DFSK Membawa E5 Plus Susuri Jakarta-Surabaya-Bali untuk Membuktikan Kemampuan PHEV di Jalan Nyata ◆ Aksara Daerah Dibidik Jadi Aset Ekonomi Baru Lewat Kolaborasi Kemenekraf dan PANDI ◆ Dipimpin Norwegia dan Finlandia, Koalisi 20 Negara Desak PBB Bentuk Badan Pengawas AI ◆ Dorong Konversi Motor Bensin ke Listrik, Pemerintah Bidik Kemandirian Energi
FINANCE

Pasar Wait and See, IHSG Tertekan Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Investor pasar modal domestik bersikap wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026. IHSG bergerak melemah dalam beberapa hari perdagangan terakhir di tengah tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan ekspektasi The Fed yang masih hawkish. Mayoritas analis memperkirakan BI Rate akan dipertahankan di level 5,75 persen.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 21 Oktober 2026, 14:34 WIB · Diperbarui 21 Oktober 2026, 22:24 WIB · 3 dibaca
pasar wait and see
— Foto: www.idnfinancials.com

DigiTVNews.com -- Pelaku pasar modal domestik memasuki pekan ini dengan sikap hati-hati sambil menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22-23 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat bergerak melemah dalam beberapa hari perdagangan terakhir seiring investor menunggu arah kebijakan suku bunga acuan.

Pada penutupan perdagangan Senin (21/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,88 persen atau 56,43 poin ke level 6.384,72. Pelemahan berlanjut pada perdagangan Selasa pagi (22/9/2026), di mana IHSG turun 0,55 persen ke level 6.349,74, meski sempat dibuka menguat di awal sesi. Indeks LQ45 turut melemah 0,48 persen ke posisi 631,23.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways dengan peluang menguji area 6.300-6.350 pada perdagangan Selasa. Menurutnya, turunnya harga minyak dan penguatan pada indeks bursa global berpotensi membatasi pelemahan indeks lebih lanjut.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyampaikan bahwa investor akan mencermati keputusan dan respons BI terhadap tekanan rupiah serta kenaikan imbal hasil obligasi global. Ekspektasi pasar sejauh ini masih condong pada skenario BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen sekaligus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing.

Sementara itu, riset dari Tim Phintraco Sekuritas menyebut Bank Indonesia kemungkinan masih akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen. Selain suku bunga, pasar juga menanti rilis data pertumbuhan kredit yang diperkirakan tumbuh 15 persen secara tahunan pada Agustus 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 13,58 persen pada Juli 2026.

Di sisi nilai tukar, rupiah tercatat melemah tipis ke kisaran Rp17.758 per dolar AS pada akhir pekan lalu, dengan proyeksi pergerakan fluktuatif pada rentang Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang kembali mendekati level 5 persen.

Kondisi ini tak lepas dari langkah The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada 16 September 2026, sekaligus membuka ruang kenaikan lanjutan. Sikap hawkish The Fed membuat pelaku pasar semakin mencermati respons kebijakan moneter Bank Indonesia pekan ini.

Co-Founder Pasardana sekaligus pengamat pasar modal Hans Kwee menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk mempertahankan BI Rate apabila rupiah relatif stabil dan inflasi tetap terkendali. Ia menyarankan investor tidak agresif melakukan pembelian menjelang keputusan BI, dan lebih memilih pendekatan selective accumulation pada saham-saham perbankan besar dengan likuiditas dan CASA yang kuat, seperti BMRI dan BBCA, serta turut memantau BBRI dan BBNI.

Pandangan sejumlah analis mengenai arah RDG kali ini masih terbelah antara skenario menahan dan menaikkan suku bunga, sehingga hasilnya belum dapat dipastikan hingga pengumuman resmi. BI Rate saat ini berada di level 5,75 persen dan telah bertahan selama tiga RDG berturut-turut sejak Agustus 2026, level tertinggi dalam 16 bulan terakhir.

Di tengah ketidakpastian arah kebijakan, sejumlah analis menyarankan investor untuk tidak menebak arah keputusan RDG secara spekulatif, melainkan mempertimbangkan strategi diversifikasi maupun akumulasi selektif pada saham-saham dengan fundamental kuat sembari menunggu kejelasan arah suku bunga.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT

NEWSLETTER DIGITV NEWS

Jangan lewatkan berita penting hari ini

Dapatkan berita pilihan, analisis, dan video terbaru DigiTV News langsung melalui email Anda.

Gratis dan dapat dihentikan kapan saja. Lihat detail newsletter