TANGERANG, DigiTVNews.com -- Industri aplikasi nasional kini didorong menjadi penopang masa depan ekonomi digital Indonesia. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut aplikasi telah menyatu dengan keseharian warga, mulai dari bekerja, belajar, bertransaksi, mencari hiburan, hingga membangun usaha. Karena itu, industri aplikasi tidak lagi bisa dipandang sebatas urusan teknologi.
Antara News
Pernyataan itu disampaikan saat membuka Indonesia Application Summit (IN-APPS) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Senin (14/9/2026). Forum yang berlangsung pada 14–15 September tersebut mengusung tema "Application as the New Engine of Growth". Acara ini mempertemukan pengembang, pelaku industri, startup, hingga investor.
Subsektor aplikasi menjadi penyumbang investasi terbesar di ekonomi kreatif pada 2025, yakni Rp54,18 triliun dari total Rp183 triliun, atau hampir 30 persen. Nilai ekspor subsektor ini juga disebut menembus USD31,94 miliar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), aplikasi mengungguli fesyen, kuliner, kriya, film, dan musik sebagai tujuan investasi. Menurut Riefky, posisi teratas itu baru terjadi dalam dua tahun terakhir.
Secara keseluruhan, ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto. Sekitar 63 persen tenaga kerjanya berasal dari generasi Z dan milenial, dan 58 persen di antaranya perempuan.
Pemerintah menerjemahkan dorongan tersebut lewat Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 yang melibatkan sekitar 24 kementerian dan lembaga. Jumlah subsektor ekonomi kreatif bertambah dari 17 menjadi 21, dan tujuh di antaranya ditetapkan sebagai prioritas, termasuk aplikasi. Subsektor baru teknologi baru, yang mencakup kecerdasan buatan, blockchain, Web3, data skala besar, hingga keamanan siber, kini memiliki direktorat sendiri.
Skala pasar domestik dinilai menjadi modal besar. Komdigi mencatat pengguna internet Indonesia tembus sekitar 250 juta jiwa. Namun, Riefky menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi aplikasi dan teknologi negara lain.
Nada serupa disampaikan Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad. Ia menyatakan Indonesia jangan hanya menjadi pasar aplikasi saja, tetapi harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia. Menurutnya, aplikasi lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus berani menembus pasar global.
Di balik optimisme itu, tantangan belum kecil. Riefky mengingatkan kebutuhan talenta digital terus meningkat di tengah laju teknologi yang sangat cepat. Komdigi sebelumnya mengungkap kesenjangan talenta digital nasional sekitar 3 juta orang. Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenekraf, Muhammad Neil El Himam, menekankan perlunya penguatan talenta, perbaikan model bisnis, serta perluasan akses pembiayaan bagi pengembang aplikasi lokal.
Dari sisi teknologi, Riefky menilai kecerdasan buatan membuka peluang lebih besar bagi industri aplikasi, tetapi harus berjalan seiring etika dan tata kelola yang baik. Pemerintah disebut tengah menyelesaikan peta jalan AI nasional dan peraturan presiden tentang etika AI.
Komdigi memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia melampaui US$100 miliar pada 2026 dan berpotensi mencapai US$220-360 miliar pada 2030. Di sisi lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut infrastruktur digital, AI, semikonduktor, dan pengembangan talenta digital sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam rangkaian IN-APPS 2026, Kemenekraf juga memberikan IN-Apps Digital Award 2026 kepada 13 pegiat dan perusahaan aplikasi. Kegiatan ini digelar bersama ASPILUKI sebagai co-host, Sinar Mas Land sebagai tuan rumah, dan PT Kaya Indonesia sebagai penyelenggara.
Bagi pemerintah, ukuran keberhasilan bukan sekadar jumlah aplikasi yang lahir. Riefky menyebut keberhasilan akan dilihat dari semakin banyaknya aplikasi Indonesia yang mampu berkembang, bersaing, dan berkiprah di tingkat global.
Belum ada komentar yang ditayangkan.