JAKARTA, DigiTVNews.com -- Ambisi Jakarta masuk jajaran 50 kota global dunia kini bertumpu pada jaringan internet yang merata hingga ke tepi kota. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan siap bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mempercepat penggelaran kabel serat optik di ibu kota.
Kesiapan itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria saat menerima audiensi Kepala Bappeda DKI Jakarta Atika Nur Rahmania dan President Director Kearney Indonesia Shirley Santoso. Pertemuan berlangsung di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026).
Menurut Nezar, kolaborasi tersebut bertujuan meningkatkan aksesibilitas internet pita lebar tetap (fixed broadband) di Jakarta. Ia menyebut wilayah pinggiran ibu kota masih punya banyak ruang untuk berkembang, sehingga penguatan jaringan perlu diarahkan ke sana. Menurutnya penilaian kota global memotret Jakarta secara keseluruhan, bukan hanya kawasan pusat.
Kearney Indonesia hadir karena kerangka Global Cities milik firma konsultan itu menjadi salah satu acuan Jakarta. Kerangka tersebut menilai delapan area keunggulan kota, termasuk infrastruktur dan mobilitas, riset dan inovasi, serta tata kelola dan pembiayaan. Infrastruktur digital menjadi sorotan karena tuntutan layanan publik yang efisien dan konektivitas tinggi terus meningkat.
Dalam laporan edisi 2024, Jakarta berada di posisi ke-74 dunia. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut peringkat ibu kota naik ke posisi ke-71 pada awal 2026. Pramono juga menyebut Jakarta naik ke peringkat ke-53 saat acara di Istora Senayan pada 4 Juli 2026. Ia menyebut capaian itu melampaui Washington DC dan Abu Dhabi.
Pemprov DKI menargetkan Jakarta masuk 50 besar kota global pada 2030 dan Top 20 pada 2045. Pengamat tata kota Nirwono Yoga menilai target itu masih realistis, asalkan persoalan dasar kota dibenahi.
Tantangan terbesar ada pada pendanaan. Dalam pemaparan yang dilaporkan Fortune Indonesia, pendanaan kota seperti Guangzhou dan Shanghai disebut lima hingga enam kali lipat lebih besar dari Jakarta setiap tahun. Karena itu Jakarta tidak bisa bergantung pada APBD semata. Pemprov DKI membuka ruang kerja sama dengan pemerintah pusat dan sektor swasta untuk pembangunan infrastruktur berstandar global.
Dalam pembahasan itu, Komdigi juga disebut siap menjembatani Pemprov DKI dengan operator telekomunikasi. Langkah ini penting karena penggelaran serat optik di lapangan melibatkan penyelenggara jaringan, izin galian, dan penataan utilitas.
Pramono sebelumnya menekankan bahwa jaringan digital pemerintah menjadi syarat transformasi Jakarta menuju 50 besar kota global. Ia menyebut transportasi, infrastruktur, dan layanan digital sebagai tiga area percepatan inovasi.
Dari sisi pusat, Nezar sebelumnya menyebut kebutuhan investasi di pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan untuk menghubungkan masyarakat yang lebih luas. Dengan koneksi tetap yang merata, Jakarta diharapkan memperbaiki skor adopsi digital, salah satu dimensi yang masih perlu dikejar dalam peringkat kota global.
Belum ada komentar yang ditayangkan.