Senin, 26 Oktober 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
Lonjakan Kebutuhan Listrik Pusat Data Dorong Pemerintah Rapatkan Barisan dengan Pengusaha Daerah ◆ Dari Bali, Indonesia dan Malaysia Rapatkan Barisan Jaga Anak dari Risiko Internet ◆ Listrik, Air, dan Jaringan Cadangan Jadi Syarat Pusat Data AI Melangkah ke Timur Nusantara ◆ Insinyur AI hingga Ahli Siber Diburu, Pemerintah Rancang Fondasi Ekosistem Digital Tepercaya ◆ Dari Nusa Dua, Indonesia Ajak Negara Berkembang Ikut Menentukan Arah Internet Dunia
TEKNOLOGI

Rasa Aman Pengguna Jadi Syarat Inovasi, Indonesia dan Singapura Satu Suara di Bali Tech Week 2026

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dan Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo sepakat bahwa kepercayaan publik adalah fondasi inovasi teknologi. Keduanya bertukar pandangan dalam diskusi panel pembukaan Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, Senin (19/10/2026). Meutya menyoroti kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan anak di ruang digital dan rasa tidak nyaman publik terhadap perkembangan AI. Indonesia menjawabnya antara lain lewat PP TUNAS, sementara Singapura menegaskan inovasi baru berkelanjutan jika masyarakat percaya pada sistemnya.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 26 Oktober 2026, 04:48 WIB · Diperbarui 26 Oktober 2026, 07:37 WIB · 2 dibaca
Menkomdigi Meutya Hafid serta Menteri Pembangunan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo dalam sesi diskusi panel pada Bali Tech Week 2026
— Foto: Komdigi

BALI, DigiTVNews.com -- Kemajuan teknologi tidak akan berjalan jauh tanpa rasa percaya dari penggunanya. Pesan itu mengemuka dalam diskusi panel pembukaan Bali Tech Week (BTW) 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Denpasar, Senin (19/10/2026), yang mempertemukan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid dengan Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo.

Meutya menyebut kepercayaan digital sebagai salah satu perhatian utama pemerintah saat ini. Ia menjelaskan bahwa transformasi digital Indonesia bertumpu pada tiga prinsip, yakni konektivitas, pertumbuhan, dan kepercayaan. Menurutnya, pemerintah perlu menciptakan lingkungan yang memberi ruang inovasi dengan hambatan seminimal mungkin, tetapi masyarakat juga harus yakin teknologi bisa digunakan dengan aman.

Meutya mencontohkan dua persoalan nyata. Pertama, selama orang tua masih cemas ketika anak beraktivitas di ruang digital, pemerintah belum sepenuhnya memperoleh kepercayaan publik di bidang tersebut. Kedua, ketika perkembangan kecerdasan artifisial (AI) membuat sebagian masyarakat tidak nyaman, kepercayaan harus dibangun lebih dulu agar inovasi bisa terus tumbuh.

Sebagai langkah konkret, ia menyebut Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS. Aturan ini, seperti dijelaskan Meutya dalam kesempatan lain, membatasi akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko. Kebijakan tersebut dinilai menjawab kekhawatiran masyarakat secara langsung.

Josephine Teo menyampaikan pandangan senada. Menurutnya, kepercayaan adalah segalanya, terutama bagi teknologi yang menopang aspek-aspek terpenting kehidupan. Ia memakai contoh perjalanannya ke Bali dengan pesawat pagi itu, yang hanya berani ia lakukan karena percaya pada keselamatan penerbangan. Menurutnya ini ogika yang sama, berlaku untuk sistem digital.

Tanpa unsur kepercayaan yang kuat, lanjut Josephine, pertumbuhan dan perkembangan teknologi tidak akan berkelanjutan. Ia meyakini kepercayaan memungkinkan inovasi, dan inovasi memungkinkan pertumbuhan, sehingga ketiganya harus berjalan bersamaan. Josephine juga mengakui membangun lingkungan digital yang aman dan terpercaya masih merupakan proses belajar bersama, sehingga pengguna maupun organisasi dapat memakai teknologi tanpa terus-menerus waswas terhadap kegagalan sistem atau dampak merugikan.

Selain soal kepercayaan, Meutya menegaskan pentingnya kolaborasi, baik di dalam negeri antara pemerintah, akademisi, dan industri, maupun dengan negara tetangga. Kehadiran Josephine Teo, menurutnya, menunjukkan pentingnya memperkuat hubungan antarnegara dalam membangun ekosistem teknologi. Meutya juga mengatakan Indonesia perlu mengoptimalkan potensi pasar digitalnya untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan kemampuan teknologi nasional.

Bagi Indonesia, penguatan kepercayaan digital menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya membangun ekonomi digital yang lebih produktif dan berdaya saing. Dengan lebih dari 1.000 delegasi internasional hadir di BTW 2026, forum ini dinilai menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan pandangan kawasan tentang teknologi yang aman, terpercaya, dan bermanfaat.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT

NEWSLETTER DIGITV NEWS

Jangan lewatkan berita penting hari ini

Dapatkan berita pilihan, analisis, dan video terbaru DigiTV News langsung melalui email Anda.

Gratis dan dapat dihentikan kapan saja. Lihat detail newsletter