DigiTVNews.com - Rangkaian panjang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, memasuki babak penting. Kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi dinyatakan demisioner dalam Sidang Pleno V yang digelar Minggu (30/8/2026) malam, setelah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan diterima baik oleh para muktamirin.
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menjadi pihak yang menyampaikan pernyataan demisioner secara resmi di hadapan forum. Dengan nada penuh keharuan, ia mengembalikan amanah kepengurusan kepada para Pengurus Wilayah (PW) dan pemegang keputusan Muktamar.
"Malam ini, dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, pengurus PBNU masa khidmah kami serahkan kembali kepada para PW dan pemegang keputusan dan kami nyatakan demisioner," kata Kiai Miftachul.
Ia turut menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan yang terjadi selama masa kepengurusan berjalan. Menurutnya, PBNU periode ini belum sepenuhnya sempurna dalam mengemban amanah organisasi bagi seluruh warga Nahdliyin.
"Semua kesalahan, kealpaan, kekurangan, dan semuanya apa yang belum bisa kita sempurnakan, kami mohon maaf atas keterbatasan semuanya ini," ujarnya, seraya berharap masa khidmah yang telah dijalani benar-benar menjadi amanah yang husnulkhatimah.
Kiai Miftachul juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama kepengurusan berjalan, serta mendoakan agar seluruh kerja sama dan dukungan tersebut mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya turut menyampaikan pernyataan serupa. Ia mengaku lega dapat menuntaskan tanggung jawab organisasi setelah LPJ kepengurusannya diterima dengan baik oleh forum tertinggi NU tersebut.
"Alhamdulillah, setelah menunaikan amanat organisasi selama masa khidmah kami dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada muktamar dan diterima dengan baik, alhamdulillah kami dapat mengakhiri masa khidmah kami dan menyatakan demisioner dengan kelegaan," ujar Gus Yahya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus, mulai dari tingkat pusat, Pengurus Wilayah (PWNU), Pengurus Cabang (PCNU), Pengurus Cabang Istimewa (PCINU), hingga tingkat ranting, atas kerja sama dan pengabdian mereka sepanjang masa khidmah. Ia menutup pernyataannya dengan doa agar kepengurusan PBNU mendatang dapat menjadi lebih baik dari periode sebelumnya. Sidang pun diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari seluruh peserta Muktamar sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian jajaran pengurus selama masa khidmah tersebut.
Usai dinyatakan demisioner, Gus Yahya menegaskan bahwa tanggung jawab dan tugasnya selama menjabat telah usai per hari itu. Ia menyampaikan bahwa arah masa depan NU selanjutnya sepenuhnya berada di tangan para muktamirin yang hadir di forum.
"Selanjutnya tinggal bagaimana muktamirin membuat keputusan-keputusan demi masa depan NU. Maka relatif ini beban tentang masa depan NU ini para muktamirin," katanya.
Ia menambahkan, siapa pun sosok yang nantinya terpilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dipastikan merupakan kader terbaik NU. Terkait posisinya sendiri ke depan, Gus Yahya mengaku menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada AHWA, sembari menegaskan dirinya akan tetap membantu NU dalam kapasitas apa pun jika bukan dirinya yang kembali terpilih sebagai Ketua Umum.
Setelah pernyataan demisioner dibacakan, kepemimpinan sidang pleno diserahkan kepada perwakilan Pengurus Wilayah (PW) untuk mengawal kelanjutan agenda Muktamar. Rangkaian sidang selanjutnya mencakup pleno penjaringan calon Ketua Umum PBNU, menyusul telah ditetapkannya sembilan anggota AHWA yang akan bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.
Dengan resminya kepengurusan lama dinyatakan demisioner, Muktamar ke-35 NU pun kini memasuki tahap paling krusial, yakni penetapan Rais Aam dan pemilihan Ketua Umum PBNU baru yang akan memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini untuk lima tahun ke depan.
Belum ada komentar yang ditayangkan.