Lampung Selatan, DigiTVNews.com -- Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Setelah mengalami erupsi menerus sejak Jumat malam, 4 September 2026, gunung api ini kembali erupsi pada Minggu dini hari, 6 September 2026, pukul 03.53 WIB. Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan status aktivitas masih berada di Level III atau Siaga, dan potensi erupsi susulan tetap perlu diwaspadai.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai laporan resmi, aktivitas Anak Krakatau sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda peningkatan sejak awal Juni 2026. Berikut kronologinya:
- 1 Juni 2026: Pengamatan satelit mulai mendeteksi emisi gas SO2 dan anomali panas di kawah gunung.
- 10 Juni 2026: Titik api mulai teramati di kawah.
- 16 Juni–2 Juli 2026: Badan Geologi mencatat ratusan kejadian gempa vulkanik, mulai dari gempa hembusan, gempa hybrid/fase banyak, hingga gempa berfrekuensi rendah, yang mengindikasikan pergerakan magma di bagian dangkal gunung. Dalam rentang 16 Juni–2 Juli saja, tercatat 740 gempa hembusan, 24 gempa harmonik, 247 gempa berfrekuensi rendah, dan 520 gempa hybrid atau multifase, ditambah 16 kejadian tremor menerus.
- 2 Juli 2026: Terjadi erupsi dengan kolom abu kelabu-kehitaman setinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Badan Geologi langsung menaikkan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) dan menetapkan zona larangan radius 3 km dari kawah aktif.
- Juni–Juli 2026: Dalam periode 2 Juni hingga 11 Juli 2026, tercatat 19 kali erupsi, dengan aktivitas yang disebut masih fluktuatif sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam penuh.
- 4–5 September 2026: Aktivitas kembali meningkat tajam. Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB yang berlangsung hingga dini hari, disertai fenomena lava fountain atau lava air mancur, serta suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari pos pemantauan di Pasauran, Banten. Berdasarkan data Darwin Volcanic Ash Advisory Center (VAAC), abu vulkanik dari erupsi ini bahkan sempat terlontar hingga ketinggian sekitar 15 km di atas permukaan laut dan bergerak ke arah barat.
- 6 September 2026, pukul 03.53 WIB: Erupsi susulan kembali tercatat. Tinggi kolom erupsi belum teramati, dan menurut Badan Geologi, erupsi tersebut masih berlangsung saat laporan dibuat.
Warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung sempat melaporkan suara dentuman dan getaran yang dirasakan, yang menurut Kepala Badan Geologi Lana Saria diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung bersamaan di waktu yang sama.
Apakah Berpotensi Memicu Tsunami?
Erupsi besar Anak Krakatau selalu dikaitkan dengan trauma sejarah letusan Krakatau 1883 yang menimbulkan tsunami dahsyat, serta longsoran tubuh gunung pada 22 Desember 2018 yang juga memicu tsunami di Selat Sunda. Namun, Badan Geologi menegaskan kondisi saat ini berbeda.
Menurut evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascakejadian 2018 dinilai masih relatif kecil sehingga belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Ancaman bahaya utama saat ini bersumber dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar, bukan dari potensi longsoran tubuh gunung.
Meski begitu, Badan Geologi tetap meminta masyarakat untuk tidak panik namun juga tidak meremehkan situasi, mengingat aktivitas magma dangkal yang masih tinggi membuat kemungkinan erupsi susulan tetap terbuka.
Imbauan Resmi untuk Masyarakat
Menyikapi rangkaian erupsi ini, Badan Geologi dan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) menyampaikan sejumlah imbauan berikut:
1. Jauhi radius bahaya. Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pendaki diminta tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
2. Waspadai bahaya ikutan. Warga diminta mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu vulkanik lebat di sekitar kawasan gunung.
3. Tetap tenang, jangan panik. Aktivitas Level III (Siaga) tidak berarti seluruh wilayah Lampung atau Banten harus mengungsi, dan erupsi tidak otomatis berujung tsunami.
4. Jangan percaya info tak terverifikasi. Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan video atau kabar yang belum jelas sumbernya, terutama isu terkait potensi tsunami. Beberapa video yang sempat viral di media sosial sebelumnya terbukti merupakan hoaks dan bukan rekaman erupsi terkini.
5. Pantau kanal resmi. Ikuti perkembangan aktivitas gunung melalui laman resmi MAGMA Indonesia (magma.esdm.go.id) dan pos pengamatan gunung api setempat, bukan dari media sosial yang belum terverifikasi.
6. Siapkan jalur evakuasi. Pemerintah daerah di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta memastikan jalur evakuasi, rambu-rambu, sistem peringatan dini, dan tempat evakuasi dalam kondisi siap digunakan sewaktu-waktu.
7. Aktivitas warga tetap normal. Bagi warga di luar radius bahaya, aktivitas sehari-hari tetap bisa berjalan normal dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat.
Yang Perlu Terus Dipantau
Badan Geologi menegaskan pemantauan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan secara intensif selama 24 jam melalui dua pos pengamatan, yakni di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Serang, Banten). Status Level III (Siaga) yang berlaku sejak 2 Juli 2026 kemungkinan masih akan bertahan mengingat aktivitas magma dangkal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Masyarakat diminta secara berkala mengecek status terkini gunung api ini sebelum melakukan aktivitas di sekitar Selat Sunda, terutama para nelayan dan operator wisata yang biasa membawa turis mendekati kawasan gunung.
Belum ada komentar yang ditayangkan.