Jakarta, DigiTVNews.com -- Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membeli asuransi perjalanan ternyata masih jauh dari kata terencana. Data terbaru yang dirilis Igloo, perusahaan insurtech asal Asia Tenggara, menunjukkan bahwa median waktu antara pelanggan menerima penawaran asuransi dan waktu keberangkatan mereka hanya berjarak dua hari saja. Bahkan, tiga dari sepuluh polis dibeli tepat pada hari keberangkatan.
Laporan ini disusun berdasarkan data transaksi sepanjang tahun 2025 dari igloo.co.id, platform direct-to-consumer milik Igloo di Indonesia, yang mencakup pola musiman, destinasi favorit, jenis perlindungan yang dipilih, hingga profil dan perilaku pembelian ulang pelanggan.
Salah satu temuan paling menonjol dalam laporan ini adalah pergeseran prioritas perlindungan yang dicari konsumen. Sebanyak 92% pelanggan menempatkan perlindungan medis sebagai pertimbangan utama saat memilih polis asuransi perjalanan, jauh di atas jenis perlindungan lain seperti kecelakaan fatal (62%), keterlambatan perjalanan (61%), kehilangan barang pribadi (60%), dan keterlambatan bagasi (54%).
Sebaliknya, perlindungan Covid-19 yang sempat menjadi fitur andalan produk asuransi perjalanan selama beberapa tahun terakhir kini justru berada di posisi paling buncit, hanya dipilih oleh 23% pelanggan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi sudah jauh mereda, dan perhatian mereka kembali ke risiko-risiko konvensional dalam perjalanan seperti sakit atau kecelakaan.
Dari sisi destinasi, perjalanan internasional menyumbang 65% dari keseluruhan polis yang terjual sepanjang 2025, dengan permintaan paling tinggi terjadi pada kuartal pertama dan keempat tahun tersebut. Jepang tercatat sebagai destinasi internasional paling populer, menyumbang 26% dari total polis perjalanan luar negeri, dengan premi rata-rata sebesar USD 32. China dan Malaysia menyusul di posisi berikutnya dengan masing-masing 11%, diikuti Singapura (10%) dan Thailand (9%).
Untuk tujuan domestik, Malang menempati posisi teratas dengan 31% dari total polis, diikuti Bandung dan Denpasar yang masing-masing menyumbang 15%. Menariknya, perjalanan jarak jauh seperti ke Eropa justru memiliki premi rata-rata paling tinggi, yakni USD 50 per polis, disusul Australia dan Pasifik di angka USD 44, sebuah pola yang wajar mengingat durasi perjalanan internasional rata-rata mencapai delapan hari, jauh lebih panjang dibanding tiga hari untuk perjalanan domestik.
Dari sisi musim, penjualan memuncak pada November dan Desember seiring meningkatnya aktivitas liburan akhir tahun, dengan penjualan November tercatat lebih dari dua kali lipat rata-rata bulanan. Sebaliknya, permintaan justru melandai pada April dan Mei, periode di mana masyarakat lebih banyak melakukan perjalanan domestik pasca-Lebaran.
Data ini juga membedah kebiasaan waktu pembelian secara lebih detail. Wisatawan domestik rata-rata membeli asuransi hanya satu hari sebelum keberangkatan, sementara wisatawan internasional sedikit lebih siap dengan rata-rata enam hari sebelumnya. Hari Rabu tercatat sebagai hari dengan volume pembelian tertinggi (19% dari total penjualan), sementara akhir pekan justru jadi periode paling sepi, dengan Sabtu dan Minggu gabungan hanya menyumbang 17%. Waktu pembelian paling ramai terjadi pada pukul 18.00–20.00, dengan QR code sebagai metode pembayaran paling banyak dipakai (43%).
Igloo juga menemukan bahwa penawaran yang disertai kode voucher memiliki tingkat konversi jauh lebih tinggi, yakni 97%, dibandingkan hanya 51% untuk penawaran tanpa kode voucher. Menurut Igloo, selisih 46 poin persentase ini lebih mencerminkan kuatnya niat beli ketimbang sekadar dorongan diskon, karena pelanggan yang mencari kode voucher umumnya memang sudah memutuskan untuk membeli.
Laporan ini turut memetakan lima profil wisatawan berdasarkan pola pembelian mereka. Wisatawan domestik membayar premi rata-rata USD 10 dan membeli tiga hari sebelum berangkat. Wisatawan regional membayar rata-rata USD 19 dengan waktu pembelian 11 hari sebelumnya. Sementara itu, wisatawan yang bepergian dalam kelompok tercatat memiliki premi rata-rata paling tinggi, yaitu USD 45, dengan waktu pembelian 17 hari sebelum keberangkatan.
Yang menarik, pelanggan loyal yang berulang kali membeli polis justru membayar premi rata-rata USD 28 dan merencanakan pembeliannya 18 hari lebih awal, jauh lebih terencana dibanding pelanggan baru. Sementara itu, wisatawan jarak jauh tercatat sebagai kelompok paling siap, merencanakan pembelian rata-rata 31 hari sebelum keberangkatan dengan premi rata-rata USD 44, sekaligus memprioritaskan perlindungan evakuasi medis dan pembatalan perjalanan.
Secara keseluruhan, 41% pelanggan Igloo tercatat sudah membeli polis setidaknya dua kali, dengan rata-rata empat polis per pelanggan dan premi 31% lebih tinggi dibanding pembeli pertama kali. Namun, pola loyalitas ini juga punya batasan: pelanggan yang sebelumnya membeli asuransi domestik cenderung tetap di kategori domestik, begitu pula sebaliknya untuk internasional, sehingga peluang cross-sell antar kategori perjalanan masih terbatas.
Co-Founder sekaligus CEO Igloo, Raunak Mehta, menilai kebiasaan membeli di menit-menit terakhir ini menunjukkan bahwa masyarakat belum sepenuhnya menjadikan proteksi perjalanan sebagai bagian dari perencanaan, melainkan baru membeli ketika ada pengingat, biasanya pada malam hari bahkan di hari keberangkatan itu sendiri. Temuan inilah yang mendorong Igloo merancang customer journey yang singkat dan bisa diselesaikan lewat perangkat mobile hanya dalam hitungan menit.
Pada Juni 2026, Igloo meluncurkan Igi, asisten berbasis AI yang memandu wisatawan dari tahap memilih destinasi, membandingkan paket, mendapat rekomendasi personal, hingga menyelesaikan pembayaran dan penerbitan polis dalam satu alur percakapan. Berbeda dari chatbot customer service pada umumnya, Igi diklaim mampu menuntaskan seluruh proses pembelian secara mandiri. Sejak diluncurkan, pengguna yang berinteraksi dengan Igi tercatat 44% lebih mungkin menyelesaikan pembelian polis dibandingkan pengguna yang hanya mengandalkan situs web biasa.
Igloo sendiri merupakan operating system berbasis AI untuk industri asuransi di Asia Tenggara, berkantor pusat di Singapura dengan operasional di Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Platform milik perusahaan ini memproses lebih dari 100 juta polis per bulan dan telah memfasilitasi lebih dari 2,2 miliar polis secara kumulatif, dengan kemitraan yang mencakup Shopee, Lazada, Tokopedia, GCash, dan Telkomsel.
Belum ada komentar yang ditayangkan.