DigiTVNews.com -- Pasar smartphone Indonesia kembali ramai oleh ponsel baru berharga terjangkau. Di saat yang sama, industri menghadapi kenaikan biaya komponen memori yang menekan harga dan penjualan, terutama di kelas bawah.
Xiaomi meluncurkan Redmi Note 17 Series di Indonesia pada Rabu (16/9/2026) dengan empat model: Note 17, Note 17 5G, Note 17 Pro 5G, dan Note 17 Pro Max 5G. Model paling terjangkau, Redmi Note 17, dibanderol mulai Rp3,999 juta. Ponsel ini membawa baterai 7.700 mAh dengan pengisian 45W dan layar AMOLED 6,99 inci. Selama periode penjualan perdana hingga 31 Oktober, ada potongan harga early bird Rp300.000. Xiaomi menjanjikan garansi 24 bulan, penggantian baterai hingga 36 bulan, dan pembaruan keamanan hingga enam tahun.
Sebelumnya, pada 20–21 Agustus, Xiaomi meluncurkan Redmi 17 dengan harga mulai Rp2,899 juta. Ponsel ini mengandalkan baterai 7.500 mAh dengan pengisian 45W. Realme juga masih bermain di segmen Rp2 jutaan, dengan realme P4 Lite yang terpantau mulai sekitar Rp2,249 juta untuk varian 4 GB/64 GB. Di kelas yang lebih tinggi, Samsung Galaxy S26 FE meluncur di Indonesia pada 11 September sebagai pintu masuk paling terjangkau ke lini Galaxy S.
Di balik keramaian peluncuran itu, data pasar menunjukkan gambaran lebih berat. Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone Indonesia turun 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Harga perangkat naik 7 hingga 45 persen, dan banyak konsumen menunda penggantian ponsel. Segmen entry-level dengan harga di bawah US$150 atau sekitar Rp2,7 juta anjlok 19 persen.
Sebaliknya, segmen premium di atas US$600 tumbuh sekitar 30 persen dan menyumbang rekor 8,3 persen dari total pengiriman. Di papan atas vendor, OPPO memimpin dengan pangsa 22 persen, disusul Xiaomi 21 persen. Samsung menjadi satu-satunya merek lima besar yang pengirimannya naik, yakni 8 persen. Vivo dan Infinix, yang banyak bergantung pada ponsel di bawah Rp2,4 juta, mencatat penurunan lebih dari 30 persen.
Penyebab utamanya adalah kelangkaan memori DRAM dan NAND, karena kapasitas produksi banyak dialihkan ke pusat data AI. IDC menyebut biaya memori kini hampir 300 persen lebih tinggi dibanding setahun lalu dan menyumbang lebih dari 65 persen biaya produksi ponsel kelas bawah. IDC juga memproyeksikan pasar smartphone Indonesia turun dua digit sepanjang 2026, dan pasar global diperkirakan terkontraksi 13,9 persen. Counterpoint memperkirakan harga chip memori belum stabil hingga paruh kedua 2027.
Menghadapi tekanan itu, vendor menggeser cara bersaing. Alih-alih spesifikasi prosesor, mereka menonjolkan baterai besar, ketahanan fisik, dan garansi panjang. Selular mencatat vendor menyematkan fitur kelas atas seperti baterai jumbo, pendingin vapor chamber, ketahanan standar militer, dan fitur AI pada ponsel entry-level untuk mendongkrak penjualan. Infinix mulai melirik kelas "affordable flagship" lewat Note 60 Pro.
Kompromi tetap terjadi. Pada Redmi 17, chipset yang dipakai disebut turun kelas dibanding generasi sebelumnya, salah satunya demi menahan harga. Konsumen pun mulai mengubah kebiasaan, dari menunda upgrade hingga beralih ke ponsel bekas atau refurbished.
Pelaku industri dan analis memperkirakan tekanan harga memori masih berlanjut. IDC bahkan menyebut kemungkinan hingga 2028. Dalam kondisi ini, "terjangkau" bagi konsumen Indonesia kian bergeser, dan nilai sebuah ponsel semakin ditentukan oleh daya tahan baterai, ketangguhan, dan dukungan purna jual.
Belum ada komentar yang ditayangkan.