DigiTVNews.com -- Dyson, merek yang selama ini identik dengan penyedot debu bertenaga siklon dan pengering rambut bertenaga tinggi, kini melangkah ke kategori yang benar-benar baru, yaitu perawatan mulut pintar. Perusahaan resmi memperkenalkan Dyson CameraJet, sikat gigi elektrik pertama di dunia yang dilengkapi kamera dan teknologi machine learning, menandai debut Dyson di ranah wellness tech atau teknologi kesehatan personal.
Produk ini pertama kali diperlihatkan oleh Founder dan Chief Engineer Dyson, James Dyson, dalam sebuah acara di Paris pada 1 September 2026, sebelum resmi diluncurkan secara global pada 3 September 2026.
Ide dasar di balik CameraJet cukup sederhana namun ambisius. Menggabungkan fungsi menyikat gigi dan water flossing dalam satu perangkat, dengan kamera sebagai "mata" yang memandu semburan cairan tepat ke celah antargigi yang sering terlewat saat menyikat biasa.
Di dalam gagangnya, Dyson menanamkan kamera berlensa makro beresolusi 100.000 piksel yang mampu memindai hingga 28 gambar per detik, dibantu lampu strobo untuk pencahayaan. Teknologi ini disebut Dyson sebagai Gap Optical Targeting, yaitu sistem machine learning yang mengidentifikasi, melacak, dan memprediksi posisi celah di antara gigi secara real-time.
Begitu sistem mendeteksi sebuah celah, pompa kecil di dalam gagang akan menyemprotkan sekitar 0,15 mililiter cairan bertekanan ke area tersebut hanya dalam waktu seperseratus detik setelah kamera "melihat" celah tersebut. Cairan disimpan dalam tangki berkapasitas sekitar 0,67 ons (± 20 ml) yang tertanam di gagang sikat. Dyson turut menerapkan mekanisme diafragma yang dapat mengembang agar tidak muncul gelembung udara, sehingga semburan tetap presisi meski sikat digunakan dari berbagai sudut.
Sebagai sikat gigi elektrik pada umumnya, CameraJet memakai motor sonik dengan getaran ratusan kali per detik, dilengkapi teknologi Dual Bristle, yaitu bulu sikat bagian dalam yang lebih kaku untuk membersihkan noda permukaan, dan bulu luar yang lebih lembut untuk membersihkan sepanjang garis gusi, serta Variable Sonic Oscillation yang mengubah sudut osilasi selama penyikatan agar bulu sikat terus bergerak aktif membersihkan.
Dyson menyebut CameraJet sebagai hasil pengembangan lebih dari enam tahun oleh lebih dari 660 insinyur, serta melibatkan kolaborasi riset selama lima tahun bersama Fakultas Kedokteran Gigi National University of Singapore untuk mengembangkan metode uji "proxy plaque" guna mengoptimalkan kemampuan perangkat mengangkat plak.
Sistem pengenalan gambar pada CameraJet dilatih menggunakan lebih dari 470 ribu gambar gigi dan didukung sekitar 16 juta baris kode. Berdasarkan pengujian eksternal yang dikutip Dyson, teknologi Variable Sonic Oscillation pada perangkat ini diklaim mampu menghilangkan hingga 69 persen lebih banyak plak pada area yang sulit dijangkau, dibandingkan sikat gigi elektrik premium terkemuka lain di pasaran.
James Dyson menjelaskan bahwa timnya berangkat dari tiga masalah mendasar dalam perawatan mulut sehari-hari: bagaimana bisa "melihat" celah antargigi, menghilangkan plak di area tersebut, dan sekaligus meningkatkan performa pembersihan saat menyikat gigi secara keseluruhan.
CameraJet dapat terhubung ke aplikasi MyDyson melalui Wi-Fi 2,4 GHz dan Bluetooth. Lewat aplikasi ini, pengguna bisa memantau kebiasaan menyikat gigi, mendapat peringatan bila tekniknya kurang tepat, melihat pemetaan area gigi, hingga menerima umpan balik yang dipersonalisasi. Salah satu fitur yang cukup mencuri perhatian adalah live viewing, pengguna dapat melihat langsung tayangan dari dalam mulut mereka lewat kamera pada sikat, ditampilkan secara real-time di layar ponsel.
Terkait kekhawatiran privasi yang wajar muncul dari perangkat berkamera semacam ini, Dyson menegaskan kamera pada CameraJet hanya aktif ketika pengguna menjalankan fitur live viewing atau auto-jetting, dan gambar yang diambil tidak direkam maupun disimpan baik di perangkat maupun di cloud.
Untuk memaksimalkan kinerja kamera, Dyson turut merancang pasta gigi dan cairan pembersih mulut khusus tanpa busa (foam-free). Alasannya teknis: busa dari agen pembuat busa umum seperti Sodium Lauryl Sulfate (SLS) dapat menghalangi pandangan lensa kamera, sehingga mengganggu fungsi deteksi celah. Pasta gigi khusus ini tetap mengandung natrium fluorida untuk memperkuat email gigi, ditambah fosfat dan xylitol yang menargetkan bakteri penyebab utama plak dan karang gigi.
Dyson CameraJet dibanderol seharga USD 499,99, atau setara sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta tergantung kurs dan pajak yang berlaku di masing-masing negara, menjadikannya salah satu sikat gigi elektrik termahal di pasaran saat ini. Produk tersedia dalam dua pilihan warna, Ceramic Pink dan Ceramic Ultra Blue, dengan baterai yang dapat diganti dan daya tahan sekitar 10 hari pemakaian normal, serta desain tahan air.
Kehadiran CameraJet menegaskan arah baru Dyson: dari sekadar produsen perangkat rumah tangga bertenaga tinggi, menjadi pemain di ranah teknologi kesehatan personal yang mengandalkan visi komputer dan kecerdasan buatan. Chief Engineer Jake Dyson menyebut perusahaan selalu berfokus pada rekayasa mekanis produk, namun kini memadukannya dengan AI dan vision system agar mesin-mesin Dyson dapat "memahami" lingkungan tempatnya beroperasi.
Meski harganya tergolong sangat premium dan sejumlah pengamat teknologi menilai fiturnya "overkill" untuk sekadar sikat gigi, langkah Dyson ini juga mencerminkan tren yang lebih besar di industri, yaitu semakin banyak perangkat rumah tangga sehari-hari yang dilengkapi sensor dan AI untuk keperluan pemantauan kesehatan mandiri, membuka kemungkinan bahwa teknologi serupa akan merambah ke kategori perawatan diri lainnya di masa depan.
Belum ada komentar yang ditayangkan.