JAKARTA, DigiTVNews.com -- Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai merambah perangkat pendukung keselamatan kendaraan, termasuk kamera dasbor atau dashcam. Jika sebelumnya dashcam hanya berfungsi merekam perjalanan sebagai bukti saat terjadi kecelakaan, kini perangkat ini berkembang menjadi sistem yang dapat mengolah data berkendara secara real-time dan memberikan peringatan aktif kepada pengemudi.
Salah satu wujud perkembangan ini datang dari Cartrack, perusahaan solusi telematika dan manajemen armada, yang meluncurkan AI Dashcam Pro dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Peluncuran ini menandai masuknya teknologi AI ke perangkat keselamatan berkendara yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai perekam perjalanan.
Kemampuan utama AI Dashcam Pro adalah mendeteksi kelelahan, gangguan konsentrasi, penggunaan ponsel, dan berbagai kejadian berisiko lainnya saat hal tersebut terjadi. Deteksi dilakukan langsung di dalam kabin, bukan setelah kejadian berlalu.
Chief Strategy & Marketing Officer Cartrack, Carmen Calisto, menyatakan pendekatan ini berangkat dari data kecelakaan lalu lintas yang dipicu faktor manusia. Ketika risiko terdeteksi, perangkat akan memberikan peringatan berupa suara dan getaran pada kursi, sehingga pengemudi diharapkan dapat segera menyadari kondisi tersebut dan memperbaiki perilakunya.
Dengan kombinasi deteksi real-time, peringatan audio, getaran kursi, komunikasi dua arah, dan penyimpanan rekaman, AI Dashcam Pro memindahkan titik intervensi keselamatan ke detik-detik sebelum insiden terjadi.
Perkembangan ini bukan yang pertama. Pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, produsen dashcam BlackVue telah lebih dulu memperkenalkan fitur AI Copilot yang terintegrasi melalui aplikasi pendukung dashcam BlackVue Fleeta pada perangkat Elite 10-2CH.
Direktur Pemasaran BlackVue Indonesia, Rudy, menjelaskan sistem tersebut memungkinkan pengguna memahami perilaku mengemudi melalui analisis yang mudah dipahami. Pengguna bahkan dapat mengajukan pertanyaan terkait kebiasaan berkendara, seperti penyebab penurunan skor keselamatan atau cara meningkatkan kualitas mengemudi, yang kemudian dijawab AI berdasarkan analisis pola akselerasi, pengereman, kecepatan, hingga durasi perjalanan.
Selain analisis perilaku, teknologi AI pada dashcam generasi terbaru juga mulai digunakan untuk mengenali objek di sekitar kendaraan lewat sistem Advanced Driver-Assistance Systems (ADAS). Fitur ini memberikan peringatan mengenai perpindahan jalur, potensi tabrakan dari depan, kendaraan yang bergerak, hingga risiko tabrakan dengan pejalan kaki.
Menurut data Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), faktor manusia menjadi penyebab pada 95 persen dari 148.798 kecelakaan lalu lintas yang tercatat pada 2023, yang menelan lebih dari 22.000 korban jiwa, atau lebih dari 60 orang setiap hari. Data ini menjadi salah satu alasan utama produsen dashcam bergerak dari sekadar alat dokumentasi menuju perangkat keselamatan aktif berbasis AI.
Pergeseran fungsi dashcam ini menunjukkan perubahan pendekatan dalam industri, mulai dari perangkat yang hanya mendokumentasikan kejadian setelah terjadi, menjadi sistem yang mampu mencegah insiden sebelum benar-benar terjadi.
Belum ada komentar yang ditayangkan.